Sunday, June 03, 2007

Orang Jepang dan Kesempurnaan

Di dunia ini tidak ada yang sempurna selain Sang Pencipta. Namun, kalau Anda pergi ke Jepang, entah mengapa, semua hal dapat terasa begitu sempurna. Hampir semua orang Jepang tampaknya bisa melakukan segala sesuatu begitu sempurna, mulai dari hal yang besar hingga hal-hal kecil yang sering disepelekan orang seperti mencuci, menyetrika, memasak, menyapu, dan sebagainya.

Kunci dari semua itu sebenarnya sederhana. Saya membaginya menjadi 2 kunci utama sebagai berikut:

1. Mutu yang Tinggi adalah Keharusan
Orang Jepang menghargai mutu dan selalu menghendaki segala sesuatu bermutu tinggi. Entah itu hasil cucian, lantai yang baru disapu-pel, hasil penelitian, dan masih banyak lagi. Hal ini dapat kita lihat pada semua produk hasil produksi Jepang. Hampir tidak ada produk Jepang yang tidak unggul di pasar dunia. Semua ini didasari oleh prinsip untuk menjaga tinggi mutu produk maupun jasa dan layanan yang orang Jepang produksi.

Setelah Perang Dunia II, keadaan bangsa Jepang sangat buruk. Kekalahan bangsa Jepang dalam Perang Dunia II tidak hanya mereka rasakan pada bidang politik, tetapi dalam segala aspek dalam kehidupan mereka. Keadaan yang mereka rasakan saat itu bahkan lebih buruk dari apa yang bangsa Indonesia rasakan setelah kemerdekaan pada periode waktu yang sama. Namun, bangsa Jepang tidak tinggal diam. Mereka berjuang begitu keras untuk memperoleh kejayaan mereka kembali.

Perusahaan-perusahaan Jepang berusaha untuk memasarkan produk-produk mereka di pasar internasional. Akan tetapi, mereka selalu gagal dan kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan Barat yang telah lebih dulu menguasai pasar. Perusahaan-perusahaan Jepang kemudian menyadari kegagalan ini disebabkan oleh rendahnya mutu produk-produk mereka. Sejak saat itu, semua perusahaan Jepang berusaha sekuat tenaga untuk menjaga mutu produk mereka dan menciptakan berbagai metode untuk menjaga mutu produk mereka tetap tinggi. Salah satu langkah yang mereka ambil adalah dengan mengundang ahli statistik dan mutu dari Amerika Serikat, A. Deming. Alhasil, berbagai perusahaan di Jepang memiliki sistem jaminan dan sistem manajemen mutu yang saat ini banyak ditiru berbagai perusahaan di dunia. Usaha untuk menciptakan mutu produk yang tinggi dan menjaganya tetap tinggi telah membuahkan hasil yang berlimpah-limpah bagi berbagai perusahaan Jepang. Mereka berhasil merebut pasar yang sebelumnya dikuasai oleh berbagai perusahaan Eropa maupun Amerika Serikat.

2. Lakukan segala sesuatu dengan segenap hati, mulai dari hal yang paling kecil hingga yang paling besar
Prinsip ini telah ditanam di dalam diri masing-masing individu Jepang sejak zaman dahulu kala. Segala keberhasilan yang berhasil Jepang raih hingga saat ini tidak lepas dari prinsip ini. Bagi bangsa Jepang, pekerjaan tidak harus selalu besar, tetapi juga termasuk hal-hal yang kecil. Jika seseorang bertugas untuk menyapu, maka ia harus dan akan melakukannya dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh dengan setengah hati dan tidak boleh ada kompromi. Seseorang yang bertugas untuk menyapu harus terlebih dahulu mempersiapkan diri sebelum bekerja dengan menyiapkan sapu, pengki yang akan ia pakai dan menentukan lokasi yang akan disapunya. Ketika ia sedang menyapu, tidak boleh ada satu kotoran pun yang tertinggal. Hal ini kemudian berkaitan dengan kata 'mottainai', yang pada dasarnya berarti 'sayang, boros'. Bahka jika ada satu kotoran yang sangat kecil yang masih tertinggal di lantai dan sulit untuk dihilangkan, seorang penyapu harus berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkannya. Untuk itu ia haruslah kreatif. Dengan demikian, ketika pekerjaannya selesai ia akan memperoleh hasil yang maksimal.

Begitulah bangsa Jepang menciptakan kesempurnaan. Hal ini tidak tercermin pada seluruh produk yang mereka produksi dan perdagangkan, tetapi pada setiap aspek dalam kehidupan bangsa Jepang.

Apa yang Hanna pikirkan:
Sebagai seorang yang pernah belajar dan tinggal di Jepang, tentu saja saya mau tidak mau terbawa dengan cara pandang dan cara kerja bangsa Jepang. Namun, ketika kita berada jauh dari mereka, terkadang kedua hal di atas menjadi sulit dilakukan terutama ketika kita tidak benar-benar menanamkannya dalam diri kita.

Wednesday, March 01, 2006

Orang Jepang dan Bahasa Inggris

Bukanlah hal yang rahasia lagi kalau masyarakat Jepang tidak fasih dalam berbahasa Inggris. Pada kenyataannya, memanglah demikian. Kita sebagai bangsa Indonesia boleh berbangga karena masyarakat Indonesia dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris lebih baik daripada masyarakat Jepang. Apa yang saya ungkapkan ini berkaitan dengan masyarakat secara umum. Tentu saja di Jepang terdapat banyak orang yang fasih berbahasa Inggris tetapi tidak dalam jumlah yang besar.
Sebagian besar masyarakat Jepang masih mengutamakan berkomunikasi hanya dengan bahasa Jepang. Pengadaptasian kata dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang memang banyak terjadi. Secara tertulis, kata-kata ini akan ditulis menggunakan huruf Katakana yang memang khusus digunakan untuk menulis bahasa asing. Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata ini disebut juga Katakana-Go yang berarti bahasa Katakana.
Pemakaian bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari di Jepang merupakan salah satu kendala yang dihadapi bangsa Jepang. Bahasa Inggris diajarkan di sekolah-sekolah sejak tingkat SMP. Walaupun demikian, pelajaran ini lebih dititikberatkan pada cara penulisan dan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar, tidak pada penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari. Akibatnya, tidak banyak orang Jepang yang dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris.
Tempat-tempat kursus bahasa Inggris hampir tidak ada di Jepang. Bahasa Inggris tampaknya hanya dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah. Mereka yang memang secara khusus belajar bahasa Inggris dalam pendidikan formalnya, akan lebih beruntung dalam hal kesempatan penggunaan bahasa Inggris. Begitu pula halnya dengan mereka yang memiliki kesempatan bertemu dengan orang-orang asing yang dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Umumnya, mereka akan melakukan pertukaran bahasa di mana orang-orang asing ini akan berbicara dengan bahasa Jepang pada mereka dan mereka akan berbicara dengan bahasa Inggris.
Salah satu faktor lainnya adalah kepercayaan diri. Banyak masyarakat Jepang yang tidak memiliki kepercayaan diri dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Walaupun pada kenyataannya mereka dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris, mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat berbahasa Inggris.
Dengan kondisi seperti ini, pencarian buku berbahasa Inggris di Jepang menjadi hal yang cukup sulit. Penerjemahan buku dari bahasa-bahasa asing ke bahasa Jepang memang sudah dipraktekkan dari zaman Meiji. Hal ini membantu masyarakat Jepang saat itu untuk dapat belajar menjadi lebih maju. Akan tetapi, hal ini menjadi salah satu kendala bagi penduduk asing yang belum fasih berbahasa Jepang yang ingin mencari bacaan dalam bahasa Inggris.

Apa yang Hanna pikirkan:
Dengan kenyataan bahwa penduduk Jepang tidak semuanya fasih berbahasa Inggris memang masih sama dengan penduduk Indonesia. Namun, bangsa Indonesia, terutama dalam beberapa tahun terakhir, memiliki kecenderungan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Terutama para pemuda yang telah mempelajari bahasa Inggris. Sebaliknya, bahasa Indonesia justru semakin ditinggalkan dan tidak dikembangkan dalam arti yang baik.
Penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang baik dan benar sama-sama penting. Oleh karena itu, tidaklah dianjurkan untuk meninggalkan dan meremehkan bahasa Indonesia walaupun seseorang telah memahami bahasa Inggris dengan benar di Indonesia.

Cara Tutup Tempat Publik

Jepang adalah negara yang menarik. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana cara beberapa toko atau restoran menutup suatu hari. Dari pengalaman saya di Hokkaido, ada beberapa cara untuk melakukan ini.

1. Memutar Lagu Auld Lang Syne
Mereka akan memutar lagu Auld Lang Syne yang dalam bahasa Jepang disebut Hotaru no Hikari (蛍(ほたる)の光(ひかり)). Lagu ini akan mulai diputar sekitar 15 menit sebelum jam tutup toko dan akan diputar berulang-ulang hingga jam tutup tepat mencapai waktunya. Kebiasaan ini sangat unik. Lagu Auld Lang Syne adalah lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang-orang Barat setiap malam pergantian tahun. Arti yang terkandung dalam lagu yang diciptakan di Skotlandia ini adalah agar setiap orang tidak melupakan kenalan mereka dalam melangkah maju menghadapi masa depan. Oleh karena itu, mendengar lagu ini diputar di suatu toko menjelang jam tutupnya adalah suatu hal yang menarik bagi saya.
Pemutaran lagu ini seakan-akan membuat pengunjung secara halus diminta keluar dari toko atau dengan kata yang lebih kasar, secara halus “diusir” dari toko. Ini adalah kebiasaan yang hampir tidak pernah terjadi di Indonesia. Baik Jepang dan Indonesia adalah negara yang mempraktekkan prinsip “Pembeli adalah Raja”, tetapi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tidaklah sama.

Apa yang Hanna pikirkan:
Saat pertama kali mendengar lagu ini diputar menjelang waktu tutup suatu supermarket yang saya kunjungi, saya tidak terlalu menggubrisnya. Saat itu, saya sedang berbelanja dengan teman saya Louis dari Jamaica di suatu supermarket bernama Big House. Saat kami mulai pergi ke supermarket itu memang sudah larut malam. Kami belanja terlalu banyak hingga tengah malam, saat supermarket itu akan tutup. Lalu kami mendengar lagu Auld Lang Syne diputar.
Kami tidak terlalu menyadarinya saat lagu itu pertama kali diputar. Lalu seakan-akan suara lagu itu semakin kuat dan kami merasa bahwa aneh sekali mereka memutar lagu itu. Kami seakan-akan diusir secara halus agar keluar dari supermarket itu karena lagu itu biasa dinyanyikan saat pergantian tahun. Lalu, pulanglah kami dari supermarket itu tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa itu adalah kebiasaan yang dilakukan di Jepang.
Beberapa hari setelah itu, saya pergi ke suatu kota bernama Otaru yang terletak tidak jauh dari Sapporo, Hokkaido. Saya mulai menyadari bahwa pemutaran lagu Auld Lang Syne menjelang jam tutup suatu toko di kota itu. Otaru adalah suatu kota pelabuhan yang kecil yang terkenal dengan barang-barang kerajinan tangannya seperti kaca. Oleh karena itu, Otaru menjadi salah satu kota di luar Sapporo yang sering dikunjungi wisatawan. Toko-toko di Otaru tutup lebih cepat, yakni pada pukul 18.00. Menjelang waktu itulah saya mendengar lagu Auld Lang Syne diputar di setiap toko. Sangat menarik. Mulai saat itu pulalah saya mengetahui dan belajar bahwa ini adalah salah satu kebiasaan yang dilakukan di Jepang.

2. Pengumuman tanpa Henti
Jepang menerapkan kunci budaya soft authority atau wewenang halus. Salah satu contohnya dapat diketahui dari bagaimana suatu perpustakaan sekolah atau fasilitas publik ditutup. Untuk singkatnya, saya akan menggunakan perpustakaan sebagai subjek dalam penjelasan ini. 30 menit sebelum suatu perpustakaan akan ditutup, seorang petugas akan mengumumkan menggunakan speaker bahwa perpustakaan itu akan segera ditutup. Terkadang digunakan juga rekaman pengumuman.
Pengumuman ini akan diulang setiap 10 menit pertama. Setelah itu, pengumuman ini akan diulang setiap 5 menit menjelang waktu tutupnya. Selain itu, pada saat yang sama para pustakawan akan memulai membersihkan dan merapikan meja atau buku-buku yang ada dengan menggunakan kemoceng. Ada kalanya, jika jumlah pengunjung yang ada sedikit, para pustakawan ini akan menegur dan mengingatkan masing-masing pengunjung bahwa perpustakaan akan segera ditutup. Umumnya mereka akan mengatakan “soro-soro...” yang berarti “sudah menjelang waktunya...”. Dengan demikian, setiap pengunjung “diminta untuk pulang” secara halus sehingga perpustakaan dapat ditutup tepat pada waktunya.

Apa yang Hanna pikirkan:
Hal ini memang membantu masyarakat Jepang dalam melakukan pekerjaan, dalam hal ini menutup suatu tempat publik, tepat pada waktunya. Akan tetapi, bagi saya yang seorang Indonesia, hal ini sangat mengganggu terutama jika para karyawan mulai menegur dan mengingatkan Anda. Bagi saya, jika suatu tempat publik dibuka misal pada pukul 09.00-17.00, sebagai seorang konsumen, hingga pukul 17.00-lah saya dapat memanfaatkan jasa ruang itu. Jika waktu penggunaan tempat itu berkurang, saya merasa hak saya sebagai seorang konsumen tidak terpenuhi.

Pengantar

Saya mengucap syukur pada Tuhan Yesus Kristus yang karena dengan kasihNya memperbolehkan saya untuk dapat belajar di Sapporo, Hokkaido, Jepang. Banyak hal yang saya pelajari di Jepang ini, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Tentu saja, perbedaan antara Indonesia dan Jepang tidak terlepas dari hal ini. Oleh karena itu, saya ingin menuangkan apa yang saya pikirkan tentang Jepang dan apa yang saya pelajari dari Jepang dalam tulisan ini.

Saya memiliki kerinduan agar tulisan-tulisan saya dalam blog ini dapat dicetak dalam bentuk buku. Tulisan-tulisan yang akan saya tuang ini tidak beraturan, dalam arti masih rangka kasar. Semuanya masih dalam bentuk tulisan bebas yang belum disusun teratur seperti halnya buku. Walaupun demikian, saya harap tulisan ini dapat membantu siapa saja yang tertarik dengan Jepang dan ingin mempelajarinya lebih lanjut.

Saya berdoa pada Tuhan agar dengan belajar di Jepang, saya juga dapat menjadi saluran berkat bagi sesama teman-teman Indonesia. Saya berdoa juga agar Tuhan perbolehkan Indonesia menjadi lebih maju dan lebih maju lagi dan juga dapat boleh menjadi saluran berkat juga bagi teman-teman dari negara lain.